Tugas B. Indonesia 2

Masjid Nabawi di Madinah

DSC_0055

Pada bulan desember tahun 2013, saya sekeluarga ingin melaksanakan umroh ke tanah suci di Arab Saudi, pada artikel ini saya ingin membahas tentang kunjungan saya saat saya ada di madinah tepatnya dimasjid Nabawi, saat kita ingin menuju ke masjid Nabawi kita harus melewati banyak pedagang yang menawarkan entah itu makanan, Al-Quran, pakaian khas di Arab Saudi dan lain – lain, berikut adalah fotonya.

IMG-20131229-00370

Setelah melewati jalan yang penuh pedagang, kita akan memasuki halaman depan dari masjid Nabawi, disana terdapat banyak sekali payung – payung raksasa yang dapat membentang dengan sendirinya dan dapat menutup dengan sendirinya, dimana paying itu akan membentang dengan sendirinya pada pagi hari sebelem subuh, dan menutup dengan sendirinya saat malam tiba.

IMG-20131229-00372

Itu adalah foto payung – payung yang ada dihalaman Masjid Nabawi, setelah kita melewatinya kita akan masuk kebagian dalam dari masjid Nabawi, didalamnya sangat luas dan megah didalamnya pun disediakan tempat untuk meminum air Zam – Zam, tempat menaruh alas kaki, tempat diletakanya Al-Quran untuk dibaca oleh orang – orang.

DSC_0041

Disana kita sekeluarga melaksanakan sholat wajib dan sholat sunnah, dan setelah itu kami berbincang bincang dengan warga yang tinggal disana. Lucunya tidak ada satu dari kami yang bisa berbahasa Arab, saat kita ajak bicara bahasa Inggris dia tidak mengerti. Jadi kami hanya bisa mengira ngira apa yang dia ucapkan, berikut adalah fotonya.

DSC_0054

Namun tidak hanya itu saya yang kita lakukan sekeluarga, didalam Masjid Nabawi juga terdapat 3Makam yaitu makam rasulullah SAW, makam Abu Bakar Ash-Shiddieq dan makam Umar bin Al-Khaththab. Kita pun mengunjungi makam makam tersebut dan melihatnya dari dekat, walaupun hanya bisa melihat pintunya saja. Disana juga ada banyak penjaga untuk melindungi 3 makam tersebut, berikut foto fotonya.

IMG-20131229-00367

Demikian yang saya bisa bagikan seputar dimasjid Nabawi, memang tidak banyak yang saya bisa ceritakan. Tetapi mudah mudahan dapat bermanfaat bagi orang orang yang membutuhkan informasi tentang masjid diNabawi.

Sejarah, Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia

  1. Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara sejak abad-abad awalpenanggalan modern. Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa Melayu yang digunakan di Jambi menggunakan dialek “o” sedangkan dikemudian hari bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi beragam. Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda untuk para pegawai pribumi dinilai lemah. Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat.

Pada tahun 1901, Indonesia sebagai Hindia-Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggrismengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu(dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Kemudian pada tahun 1908 Pemerintah Hindia-Belanda (VOC) mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat). Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur (“Komisi Bacaan Rakyat” – KBR) pada tahun 1908, yang kemudian pada tahun 1917 ia diubah menjadi Balai Pustaka. Balai itu menerbitkan buku-buku novel seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.

Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai “Bahasa Persatuan Bangsa” pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulanMuhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,

“Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.”

Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.

Pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan dan kesastraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan Kongres IX Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta. Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam kongres  ini.

  1. Peristiwa Penting dalam Perkembangan Bahasa Indonesia
  • Pada tahun 1908 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Commissie voor de Volkslectuurmelalui Surat Ketetapan Gubernemen tanggal 14 September 1908 yang bertugas mengumpulkan dan membukukan cerita-cerita rakyat atau dongeng-dongeng yang tersebar di kalangan rakyat, serta menerbitkannya dalam bahasa Melayu setelah diubah dan disempurnakan. Kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka.
  • Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.
  • Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.
  • Tahun 1933 terbit majalah Pujangga Baru yang diasuh oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane. Pengasuh majalah ini adalah sastrawan yang banyak memberi sumbangan terhadap perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Pada masa Pujangga Baru ini bahasa yang digunakan untuk menulis karya sastra adalah bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh masyarakat dan tidak lagi dengan batasan-batasan yang pernah dilakukan oleh Balai Pustaka.
  • Tahun 1938, dalam rangka memperingati sepuluh tahun Sumpah Pemuda, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, Jawa Tengah. Kongres ini dihadiri oleh bahasawan dan budayawan terkemuka pada saat itu, seperti Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat, Prof. Dr. Poerbatjaraka, dan Ki Hajar Dewantara. Dalam kongres tersebut dihasilkan beberapa keputusan yang sangat besar artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Keputusan tersebut, antara lain: mengganti Ejaan van Ophuysen, mendirikan Institut Bahasa Indonesia, dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam Badan Perwakilan.
  • Tahun 1942-1945 (masa pendudukan Jepang), Jepang melarang pemakaian bahasa Belanda yang dianggapnya sebagai bahasa musuh. Penguasa Jepang terpaksa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi untuk kepentingan penyelenggaraan administrasi pemerintahan dan sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan, sebab bahasa Jepang belum banyak dimengerti oleh bangsa Indonesia. Hal yang demikian menyebabkan bahasa Indonesia mempunyai peran yang semakin penting.
  • 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia dinyatakan secara resmi sebagai bahasa negara sesuai dengan bunyi UUD 1945, Bab XV pasal 36: Bahasa negara adalah bahasa Indonesia.
  • 19 Maret 1947 (SK No. 264/Bhg. A/47) Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Mr. Soewandi meresmikan Ejaan Republik sebagai penyempurnaan atas ejaan sebelumnya. Ejaan Republik ini juga dikenal dengan sebutan Ejaan Soewandi.
  • Tahun 1948 terbentuk sebuah lembaga yang menangani pembinaan bahasa dengan nama Balai Bahasa. Lembaga ini, pada tahun 1968, diubah namanya menjadi Lembaga Bahasa Nasional dan pada tahun 1972 diubah menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yang selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Pusat Bahasa.
  • 28 Oktober s.d. 1 November 1954 terselenggara Kongres Bahasa Indonesia II di Medan, Sumatera Utara. Kongres ini terselenggara atas prakarsa Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, Mr. Mohammad Yamin.
  • Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 tahun 1972 diresmikan ejaan baru yang berlaku mulai 17 Agustus 1972, yang dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan Tap.MPR No. 2/1972.
  • 10 s.d. 14 25 s.d. 28 Februari 1975 di Jakarta diselenggarakan Seminar Politik Bahasa Indonesia. Tahun 1978, bulan November, di Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III. Tanggal 21 s.d. 26 November 1983 berlangsung Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Tanggal 27 Oktober s.d. 3 November 1988 berlangsung Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Tanggal 28 Oktober – 2 November 1993 berlangsung Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta.
  • Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
  • Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
  • Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam,Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
  • Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
  • Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.
  1. Beberapa Fungsi dalam Bahasa Indonesia
  2. Fungsi Bahasa Indonesia Baku :
  3. Sebagai pemersatu : dalam hubungan sosial antar manusia
  4. Sebagai penanda kepribadian : mengungkapkan perasaan & jati diri
  5. Sebagai penambah wibawa : menjaga komunikasi yang santun
  6. Sebagai kerangka acuan : dengan tindak tutur yang terkontrol
  7. Secara umum sebagai alat komunikasi lisan maupun tulis.

Menurut Santoso, dkk. (2004) bahwa bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi sebagai berikut:

  1. Fungsi informasi : mengungkapkan perasaan
  2. Fungsi ekspresi diri : perlakuan terhadap antar anggota masyarakat
  3. Fungsi adaptasi dan integrasi : berhubungan dengan sosial
  4. Fungsi kontrol social : mengatur tingkah laku
  5. Menurut Hallyday (1992) Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk keperluan:
  6. Fungsi instrumental : untuk memperoleh sesuatu
  7. Fungsi regulatoris : untuk mengendalikan prilaku orang lain
  8. Fungsi intraksional : untuk berinteraksi dengan orang lain
  9. Fungsi personal : untuk berinteraksi dengan orang lain
  10. Fungsi heuristik : untuk belajar dan menemukan sesuatu
  11. Fungsi imajinatif : untuk menciptakan dunia imajinasi
  12. Fungsi representasional : untuk menyampaikan informasi
  13. Kedudukan Bahasa Indonesia

 

  1. Sebagai Bahasa Nasional

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional diperoleh sejak awal kelahirannya, yaitu tanggal 28 Oktober 1928 dalam Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional sekaligus merupakan bahasa persatuan. Adapun dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional , bahasa Indonesia mempunyai fungsi sebagai berikut. Lambang jati diri (identitas). Lambang kebanggaan bangsa. Alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belakang etnis dan sosial-budaya, serta bahasa daerah yang berbeda. Alat penghubung antarbudaya dan antardaerah

 

  1. Sebagai Bahasa Resmi/Negara

Kedudukan bahasa Indonesia yang kedua adalah sebagai bahasa resmi/negara; kedudukan ini mempunyai dasar yuridis konstitusional, yakni Bab XV pasal 36 UUD 1945. Dalam kedudukannya sebagai bahasa resmi/negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai berikut. Bahasa resmi negara . Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan. Bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan. Bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu dan teknologi.

 

 

Sumber: http://coretanwnh.blogspot.com/2013/09/sejarah-fungsi-dan-kedudukan-bahasa.html

Teknik Penulisan Karya Ilmiah

tips-menulis

  1. Pendahuluan
    Teknik penilisan karya ilmiah perlu mengikuti suatu aturan yang berlaku. Terdapat dua cara yang dapat di¬ikuti, yaitu model Turabian (1973) dan model American Psychological Association [APA] (1988). Model Turabian menggunakan catatan kaki (footnote) untuk menunjukkan referensi, dan menggunakan istilah-istilah ibid, op cit, dan loc cit. Apabila pengetikan masih menggunakan mesin tulis, model Turabian lebih sulit dilaksanakan karena harus selalu menghitung jumlah baris dari bawah yang harus disediakan untuk menulis catatan kaki. Akan tetapi, pro-gram pengolah kata (word processor) tertentu, dapat membantu dan memudahkan tugas pengetikan.
    Cara yang lebih praktis, baik menggunakan mesin tulis biasa maupun pengolah kata, adalah model yang ditetapkan oleh APA. Model ini digunakan dalam penulisan artikel untuk jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh lembaga ini. Jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh The National Association of Social Work¬ers (NASW) seperti Social Work dan Social Work Research & Abstracts juga sudah menggunakan cara ini.
    Model APA tidak menggunakan catatan kaki seperti dalam model Tura¬bian, tetapi setiap referensi ditunjukkan oleh nama penulis dan tahun penerbit¬an. Jika kutipan merupakan kutipan langsung, artinya kata demi kata diambil dari sumbernya, ditunjukkan juga nomor halaman sumbernya. Jika nama penulis yang dikutip sudah termasuk dalam uraian, maka untuk menunjuk¬kan referensi cantumkan tahun penerbitan dalam tanda kurung langsung se¬telah nama penulis tersebut. Jika nama penulis tidak termasuk dalam uraian, maka referensi ditunjukkan oleh nama penulis dan tahun dalam tanda kurung yang dibatasi oleh koma. Pada akhir kutipan langsung, dicantumkan nomor halaman dalam tanda kurung. jika nama penulis tidak disebutkan dalam uraian, pada akhir kutipan langsung, referensinya ditunjukkan dengan me¬nyebut nama, tahun terbitan, dan nomor halaman yang semuanya di dalam tanda kurung.
    Dengan model apa ini, kunci referensinya adalah pada daftar pustaka. Oleh karena itu, penunjukan referensi dalam uraian dan daftar pustaka harus bersesuaian. Setiap nama yang merupakan referensi dalam uraian harus muncul pada daftar pustaka, kecuali referensi sebagai hasil komunikasi pribadi. Cara penulisan sumber referensi pada daftar pustaka membedakan sumber yang berbeda. Suatu bab dari buku yang diedit dicantumkan secara berbeda dari buku yang ditulis oleh seorang penulis. Demikian juga penulisan sumber suatu artikel dari suatu jurnal terlihat jelas berbeda dengan penulisan sumber yang lain.
  2. Tata Tulis
    Penulisan ilmiah di samping harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, juga harus dapat menggunakan bahasa itu sebagai sarana komunikasi ilmu. Penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar dalam tulis-menulis, harus pula ditunjang oleh penerapan peraturan ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia, yaitu Ejaan Yang Disempurnakan.
    Di samping penggunaan bahasa, penulis dituntut untuk memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang berhubungan dengan teknik penulisan ilmiah. Persyaratan itu menyangkut cara mengutip, cara membuat catatan kaki, cara menyingkat catatan kaki, dan cara menyusun sumber bacaan menjadi daftar bacaan.

2.1 Ejaan dan Tanda Baca
Gagasan yang disampaikan secara lisan atau tatap muka lebih mudah atau lebih cepat dipahami daripada secara tertulis. Hal ini disebabkan, dalam baha¬sa lisan faktor gerak-gerik, mimik, intonasi, irama, jeda, serta unsur-unsur nonbahasa lainnya ikut memperlancar. Unsur-unsur nonbahasa tersebut tidak ter¬dapat di dalam bahasa tulis. Ketiadaan itu menyulitkan komunikasi dan mem¬berikan peluang untuk kesalahpahaman. Di sinilah ejaan dan pungtuasi (tanda¬tanda baca) berperan sampai batas-batas tertentu, menggantikan beberapa unsur nonbahasa yang diperlukan untuk memperjelas gagasan atau pesan. Perhatikanlah contoh berikut!
Contoh ini tidak menggunakan tanda baca dan huruf kapital.
kejahatan merupakan suatu peristiwa penyelewengan terhadap norma–norma atau perilaku teratur yang menyebabkan terganggunya ketertiban dan ketentraman kehidupan manusia perilaku yang dikualifikasikan sebagai kejahatan biasanya dilakukan oleh sebagian terbesar warga masyarakat atau penguasa yang menjadi wakil-wakil masyarakat seharusnya ada suatu keserasian pendapat antara kedua unsur tersebut walaupun tidak mustahil terjadi perbedaan tersebut mungkin timbul karena kedua unsur tadi tidak sepakat mengenai kepentingan-kepentingan pokok yang harus dilindungi.

Dapatkah pembaca memahami tulisan di atas? Mungkin dapat, tetapi agak sulit.
Cobalah baca kembali!
Kejahatan merupakan suatu peristiwa penyelewengan terhadap norma atau perilaku teratur yang menyebabkan terganggunya ketertiban dan ketentraman kehidupan manusia. Perilaku yang dikualifikasikan sebagai kejahatan, biasanya dilakukan oleh sebagian besar warga masyarakat atau pe¬nguasa yang menjadi wakil-wakil masyarakat. Seharusnya ada suatu kese¬rasian pendapat antara kedua unsur tersebut, walaupun tidak mustahil ter¬jadi perbedaan. Perbedaan-perbedaan tersebut mungkin timbul, karena ke¬dua unsur tadi tidak sepakat mengenai kepentingan-kepentingan pokok yang harus dilindungi.

Kita dapat melihat, tulisan yang sudah diberi pungtuasi dan diperbaiki ejaannya, lebih mudah dan lebih cepat dipahami. Itulah sebabnya, kemam¬puan dalam menerapkan ejaan dan pungtuasi sangat dituntut dalam tulis¬ menulis.

2.2 Pemakaian dan Penulisan Huruf, Penulisan Kata, Tanda Baca, serta Penulisan Unsur Serapan
(lihat lampiran: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah)
3. Teknik Penulisan Ilmiah
Teknik Penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yaitu gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah, serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari ilmu pengetahuan yang digunakan dalam penulisan. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang teknik notasi ilmiah. Di samping itu juga akan dijelaskan cara menyusun sumber pustaka de¬ngan mentabulasikan semua sumber bahan yang dibaca, baik yang sudah di¬publikasikan maupun yang belum dipublikasikan.

3.1 Kutipan dan Catatan Kaki
3.1.1 Kutipan
Menyisipkan kutipan-kutipan dalam sebuah tulisan ilmiah bukanlah merupakan suatu keaiban. Tidak jarang pendapat, konsep, dan hasil pene-litian dikutip kembali untuk dibahas, ditelaah, dikritik, dipertentangkan, atau diperkuat. Dengan kutipan sebuah tulisan akan terkait dengan pene-muan-penemuan atau teori-teori yang telah ada. Namun demikian, kita hanya mengutip kalau memang perlu. Janganlah tulisan kita itu penuh dengan kutipan. Di samping itu kita harus bertanggung jawab penuh ter-hadap ketepatan dan ketelitian kutipan, terutama kutipan tidak langsung.
Dalam uraian sebelumnya sudah dipelajari bagaimana mencatat bahan¬-bahan dari buku dalam kartu informasi. Bahan-bahan tersebut mungkin di-cantumkan dalam tulisan sebagai kutipan. Kutipan ini dapat berfungsi se-bagai: a. Landasan teori, b. Sebagai penjelasan, c. Penguat pendapat yang dikemukakan penulis. Kutipan terdiri atas kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Yang masing-masing dibagi lagi atas kutipan panjang dan kutipan pendek

1) Kutipan Langsung
a) Kutipan Langsung Panjang
Kutipan langsung yang lebih dari tiga baris ketikan disebut kutipan langsung panjang. Kutipan semacam ini tidak dijalin dalam teks, tetapi diberi tempat tersendiri. Kutipan langsung panjang diketik dengan jarak baris satu spasi tunggal pada garis tepi baru yang jaraknya empat ketukan huruf dari garis margin. Indensi dari kalimat pertama tujuh ketukan dari garis tepi (margin) atau tiga ketukan dari garis tepi yang baru. Ingat, kutipan langsung panjang tidak diapit dengan tanda kutip.
Contoh:
. . . Banyak batasan yang telah dikemukakan mengenai pengertian definisi. Keraf, misalnya mengemukakan:
Definisi pada prinsipnya adalah suatu proses menempatkan suatu objek yang akan dibatasi ke dalam kelas yang dimasukinya (berarti klasifikasi lagi), dengan menyebutkan ciri-ciri yang membedakan objek tadi dari anggota-anggota kelas lainnya.

  1. b) Kutipan Langsung Pendek
    Kutipan langsung dapat digolongkan ke dalam kutipan langsung pendek kala,u tidak melebihi tiga baris ketikan. Kutipan ini cukup di¬jalin ke dalam teks dengan meletakkannya di antara dua tanda petik.
    Contoh:
    Mengenai kalimat efektif Anton M. Moeliono mengemukakan, “Kalimat yang efektif dapat dikenal karena ciri-cirinya yang ber¬ikut: keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan keringkasan.”

Mengutip Sanjak
Untuk kutipan langsung pendek, baris-baris dari sanjak d,ijalin ke dalam teks dan diletakkan di antara dua tanda kutip. Apabila kutipan lebih dari dua baris, tiap-tiap baris dipisahkan dengan garis miring
Contoh:
Putu Arya Tirtawirya dengan tanya yang sahaja menyiratkan juga sikap religius, menyerah kepada-Nya. “Apa yang kau cari hatiku, si anak penakut/Resah jemari menguak Kitab/yang memantulkan Spektra hati yang paling dalam/Memancar dari Dia yang paling Kudus.”

Kutipan langsung yang panjang untuk sanjak dengan sendirinya ti¬dak dapat dijalin ke dalam teks. Sanjak dikutip seperti bentuk aslinya dan diletakkan di tengah-tengah, tanpa tanda petik.
2) Kutipan Tidak Langsung
Seorang ilmuwan dituntut untuk mampu menyatakan pendapat orang lain dalam bahasa ilmuwan itu sendiri yang mencerminkan ke¬pribadiannya. Kutipan tidak langsung merupakan pengungkapan kembali maksud penulis dengan kata-katanya sendiri. Jadi, yang dikutip hanyalah pokok-pokok pikiran, atau ringkasan dan kesimpulan dari se¬buah tulisan, kemudian dinyatakan dengan bahasa sendiri. Walaupun yang dikutip dari bahasa asing, tetapi tetap dinyatakan dengan bahasa Indonesia.
a) Kutipan Tidak Langsung Panjang
Kutipan tidak langsung (parafrase) sebaiknya dilakukan sependek mungkin, diperas sedemikian rupa sehingga tidak lebih dari satu pa¬ragraf. Namun, karena sesuatu hal kutipan tidak langsung dapat melebihi satu paragraf. Kutipan tidak langsung yang lebih dari satu paragraf inilah yang disebut kutipan tidak langsung yang panjang.
Untuk parafrase yang lebih dari satu paragraf ini menimbulkan kesulitan bagaimana mengidentifikasi bahwa paragraf-paragraf itu me¬rupakan kutipan, karena gaya penulisannya sama dengan gaya.penulis. Untuk mengatasi kesulitan ini, yaitu dengan menyebutkan nama penu¬lis yang dikutip pada permulaan parafrase dan memberikan angka ca¬tatan kaki pada akhir kalimat parafrase.
Contoh:
Bagaimana ujud penalaran ilmiah itu di dalam pelaksanaannya? Berikut ini dikemukakan penjelasan Shurter dan Pierce.
Penalaran induktif merupakan proses penalaran untuk menarik suatu prinsip/sikap yang berlaku umum atau suatu kesimpulan yang bersifat khusus berdasarkan atas fakta-fakta khusus. Penalaran induk tif mungkin merupakan generalisasi, analogi atau hubungan kausal. Ge¬neralisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejum¬lah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan menge¬nai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi, infe¬rensi tentang kebenaran suatu gejala khusus ditarik berdasarkan kebe¬naran gejala khusus yang bersamaan. Hubungan kausal adalah hubungan ketergantungan antara gejalagejala yang mengikuti pola sebab-akibat.
Penalaran deduktif adalah penalaran untuk menarik kesimpulan yang bersifat individual/khusus dari suatu prinsip atau sikap yang ber¬laku umum. Penalaran itu mencakup bentuk silogisme, yaitu bentuk penalaran deduktif formal untuk menarik kesimpulan dari premis ma¬yor dan premis minor. Kesimpulan di dalam silogisme selalu harus le¬bih khusus dari premis-premisnya. Bentuk penalaran deduktif lainnva ialah entimem, yaitu bentuk silogisme yang dihilangkan salah satu pre¬misnya. Di dalam kehidupan sehari-hari bentuk inilah vang lebih ba¬nyak dipergunakan.

  1. b) Kutipan Tidak Langsung Pendek
    Parafrase yang terdiri dari satu paragraf disebut pendek. Sebaiknya parafrase pendek ini disediakan tempat tersendiri, tidak dibaur dengar teks. Akan lebih balk lagi parafrase itu diambil dari satu sumber. Akan tetapi jika ide, pendapat, atau kesimpulan yang dikutip itu berasal dari bermacam-macam sumber dan sangat mirip satu sama lain, lebih balk diparafrasekan dalam satu paragraf dengan menvebutkan semua sum¬bernya dalam satu paragraf.
    Contoh:
    Muass(1975) mengadakan penelitian untuk menjawab masalah apakah perkembangan pemikiran operasional formal tidak dapat dipercepat melalui pengajaran seperti yang mula-mula dikemukakan Piaget. Dari penelitiannya Ia menyimpulkan bahwa pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang terarah mempengaruhi struk¬tur pemikiran anak.
    Di Indonesia perielitian perkembangan kognitif dengan menggunakan perangkat tugas dari teori Piaget dan perangkat tugas dari Bruner, pernah dilakukan oleh tim penelitian dari Universitas Kris-ten Satya Wacana dengan menggunakan 144 orang sampel dari Sa-latiga.

3) Mengutip dari Kutipan

Mengutip dari kutipan harus dihindari. Tetapi dalam keadaan ter¬paksa, misalnya sulitnva menemukan sumber aslinya, mengutip dari kutipan bukanlah merupakan suatu pelanggaran. Apabila seorang penulis terpaksa mengutip dari kutipan, Ia harus bertanggung jawab terhadap ketidaktepatan dan ketidaktelitian kutip¬an yang dikutip. Selain itu pengutip wajib mencantumkan dalam catatan kaki bahwa Ia mengutip sumber itu dari sumber lain. Kedua sumber itu dituliskan dalam catatan kaki dengan dibubuhi keterangan “dikutip dari”.

3.1.2 Catatan Kaki
Pernvataan ilmiah yang kita pergunakan dalam tulisan kita harus mencakup beberapa hal. Pertama kita harus dapat mengidentifikasikan orang yang membuat pernyataan tersebut. Kedua, kita harus pula da¬pat mengidentifikasikan media komunikasi ilmiah tempat pernyataan itu dimuat atau disampaikan, misalnya buku, makalah, seminar, lokakarya, majalah, dan sebagainya. Ketiga, harus pula dapat kita identifi¬kasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut serta tem¬pat dan itu tidak diterbitkan, tetapi disampaikan dalam bentuk maka¬lah dalam seminar atau loka karya, maka harus disebutkan tempat, waktu, dan lembaga yang melakukan kegiatan tersebut.
Cara kita mencantumkan ketiga hal tersebut dalam tulisan ilmiah kita, disebut teknik notasi ilmiah. Sebetulnya terdapat bermacam-¬macam teknik notasi ilmiah yang pada dasarnya mencerminkan hakikat dan unsur yang sama, meskipun dinyatakan dalam format dan simbol yang berbeda. Seorang ilmuwan dapat memilih notasi ilmiah yang telah diakui, asalkan dipergunakan secara konsisten. Jangan men-campuradukkan beberapa teknik notasi ilmiah sekaligus, karena hal ini akan membingungkan pembaca. Demikian pula halnya dengan daf¬tar pustaka.
Di bawah ini dapat dipelajari teknik notasi ilmiah yang mempergunakan catatan kaki (footnote). Fungsi catatan kaki ini ialah menun¬jukkan sumber informasi bagi pernyataan ilmiah yang terdapat dalam tulisan kita. Fungsi lain dari catatan kaki ini sebagai tempat bagi catat¬an-catatan kecil yang kalau disatukan dengan uraian akan mengganggu kelancaran penulisan. Jadi, catatan kaki juga berfungsi untuk memberi keterangan tambahan. Tetapi kalau keterangan tambahan ini panjang sekali, sebaiknya dipindahkan ke belakang (lampiran).
Seperti yang sudah dijelaskan dalam uraian sebelumnya, semua kutipan, langsung maupun tidak langsung, harus dijelaskan dari mana sumbernya. Untuk makalah biasanya langsung dicantumkan sumbernya di belakang kutipan dan dituliskan dalam tanda kurung, penga¬rang, tahun, halaman. Sumber yang lengkap tercantum dalam daftar pustaka.
Contoh:
… Sahono Soebroto mengatakan bahwa tugas administrasi negara mencakup semua aspek kehidupan nasional bangsa. (Sahono Soebroto, 1982: 7).

Untuk skripsi, disertasi, atau proyek paper dan buku, sumber di-nyatakan dalam bentuk catatan kaki (footnote).
1) Fungsi
Catatan kaki dicantumkan sebagai pemenuhan kode etik yang berlaku, sebagai penghargaan terhadap karya orang lain.
2) Pemakaian
Catatan kaki dipergunakan sebagai:
a) pendukung keabsahan penemuan atau pernyataan penulis yang tercantum di dalam teks atau sebagai petunjuk sumber;
b) tempat memperluas pembahasan yang diperlukan tetapi tidak relevan jika dimasukkan dalam teks, penjelasan ini dapat berupa kutipan pula.
c) referensi silang, yaitru petunjuk yang menyatakan pada bagian mana/halaman berapa, hal yang sama dibahas dalam tulisan;
d) tempat menyatakan penghargaan atas karya atau data yang diterima dari orang lain.

3) Penomoran
Penomoran catatan kaki dilakukan dengan menggunakan ang-ka Arab (l, 2, dan seterusnya) di belakang bagian yang diberi ca-tatan kaki, agak ke atas sedikit tanpa memberikan tanda baca apapun. Nomor itu dapat berurut untuk setiap halaman, setiap bab, atau seluruh tulisan. Namun sebaiknya untuk lebih efektif berurut untuk seluruh tulisan.

4) Penempatan
Catatan kaki dapat ditempatkan langsung di belakang bagian yang diberi keterangan (catatan kaki langsung) dan diteruskan de¬ngan teks,
Contoh:
Peranan dan tugas kaum pria berbeda dengan peranan tugas kaum wanita. Sehubungan dengan hal itu, Margaret Mead (1935) berdasarkan penelitiannya di beberapa masyarakat di Papua Nugini, menyatakan bahwa perbedaan itu tidak semata¬mata berdasarkan perbedaan jenis kelamin saja, melainkan ber¬hubungan erat dengan kondisi sosial budaya lingkungannya.

Antara catatan kaki dengan teks dipisahkan dengan garis se-panjang baris. Cara yang lebih banyak dilakukan ialah dengan meletakkannya pada bagian bawah (kaki) halaman atau pada akhir setiap bab.

5) Unsur-Unsur Catatan Kaki
a) Untuk Buku
(1) Nama pengarang (editor, penerjemah), ditulis dalam urutan diikuti koma (,).
(2) Judul buku, ditulis dengan huruf kapital (kecuali kata-kata tugas) dan digarisbawahi.
(3) Nama atau nomor seri, kalau ada.
(4) Data publikasi:
(a) Jumlah jilid, kalau ada
(b) Nomor cetakan, kalau ada
(c) Kota penerbit, diikuti titik dua (:)
(d) Nama penerbit, diikuti koma (,)
(e) Tahun penerbitan c, d, e diletakkan diantara tanda ku¬rung ( … )
(5) Nomor jilid kalau perlu
(6) Nomor halaman, diikuti titik (.)

  1. b) Untuk Artikel dalam Majalah Berkala
    (1) Nama pengarang
    (2) Judul artikel, di antara tanda kutip(“)
    (3) Nama majalah, digarisbawahi.
    (4) Nomor majalah jika ada.
    (5) Tanggal penerbitan.
    (6) Nomor halaman.
    6) Catatan Kaki Singkat
    a) Ibid. (Singkatan dari Ibidum, artinya sama dengan di atas), untuk catatan kaki yang sumbernya sama dengan catatan kaki yang tepat di atasnya. Ditulis dengan huruf besar, digarisba¬wahi, diikuti titik ( . ) dan koma ( , ) lalu nomor halaman.
    b) op. cit. (Singkatan dari opere citati, artinya dalam karya yang telah dikutip), dipergunakan untuk catatan kaki dari sumber yang pernah dikutip, tetapi telah disisipi catatan kaki lain dari sumber lain. Urutannya: nama pengarang, op. cit, nomor hala¬man.
    c) loc, cit. (Singkatan dari loco citati, artinya tempat yang telah dikutip), seperti di atas tetapi dari halaman yang sama: nama pengarang loc. cit. (tanpa nomor halaman). ,
    7) Contoh-contoh
    a) Dari Buku
    2John Dewey, How We Think (Chicago: Henry Regnery Com¬pany, 1974), p. 75.

3BP3K, Strategi Pengembangan Kekuatan Penalaran (Jakarta Departemen P dan K, 1979), p. 81-95.
4Ibid., p. 15.
5John Dewey, op. cit., p. 18.
6John Dewey, loc.cit.
b) Dari Majalah
7Linus Simanjuntak, “Andaikan Kolam itu Bumi Kita”, Suara Alam No. 9 (1980), pp. 17-18.
c) Dari Surat Kabar
8Tajuk Rencana daiam Kompas (Jakarta), 7 Mei 1981.
9 Artikel dalam Sinar Harapan (Jakarta), 29 April 1981.
d) Dari Ensiklopedia
10John E. Bardach, “Fish”, “Encyclopedia Americana (New York: Americana Corporation, 1973), 11, pp. 289-309.
e) Dari Internet
11 Kompas Cyber Media.htm, Jum’at 11 Agustus 2000, 13:32 wib Tips Memilih Nama Domainhttp://www.kompas.com/kcm/news/0008/11/0038.htm
f) Dari Sumber Yang Belum Dipublikasikan Seperti Tesis, Skrip¬si, Disertasi

12Sabarti Akhadiah, “Pengaruh Materi Pengajaran Bahasa Indonesia, Lokasi Sekolah, dan Jenis Kelamin Terhadap Ke¬mampuan Penalaran Ilmiah Siswa SMP” (Disertasi yang tidak diterbitkan, Fakultas Pasca Sarjana Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta, 1983, p.36.)
Perlu diketahui bahwa banyak cara yang telah diterapkan sehubungan de-ngan pemakaian dan penulisan kutipan, catatan kaki, dan daftar kepustakaan. Setiap perguruan tinggi menetapkan aturan tertentu mengenai teknik penulisan ini. Meskipun aturan itu mungkin berbeda-beda, namun semua bersepakat untuk menghargai penemuan atau karya orang lain.

3.2 Daftar Pustaka
3.2.1 Tujuan Daftar Pustaka
Daftar pustaka bermaksud mentabulasi atau mendaftarlcan semua sumber bacaan baik yang sudah dipublikasikan seperti buku, majalah, surat kabar, maupun yang belum dipublikasikan seperti paper, skripsi, tesis, dan disertasi. Melalui daftar pustaka ini pembaca dapat mengetahui sumber-sumber apa saja yang dipergunakan dalam penulisan karya ilmiah itu tanpa membaca seluruh tulisan terlebih dahulu. Berdasarkan daftar pustaka itu pembaca yang berpengalaman akan dapat mengira mutu pembahasan tulisan tersebut, karena tujuan utama dari daftar pustaka adalah untuk mengidentifikasikan karya ilmiah itu sendiri.

3.2.2 Mengklasifikasi Daftar Pustaka
Suatu karya ilmiah atau skripsi, atau tesis merupakan hasil karya yang mengarah pada satu bidang terteritu. Dengan demikian sumber bahan yang dipakai adalah yang ada hubungan dengan bidang yang dikupas. Sumber semacam ini disebut sumber primer. Dalam karya ilmiah yang menjurus pada satu bidang ini, hampir tidak ada sumber sekundernya. Jadi daftar pustaka secara keseluruhan merupakan sumber primer. Penggolong¬an terhadap daftar kepustakaan seperti ini disebut penggolongan berdasar¬kan bidang, yaitu bidang masalah yang ditelaah.
Selain pembagian/klasifikasi berdasarkan bidang, daftar pustaka dapat diklasifikasikan menurut jenis sumber ini didasarkan pada kelompok: bu¬ku, majalah, surat kabar, jurnal, skripsi, tesis, disertasi. Tetapi pengelom pokan menurut jenis sumber ini akan diperlukan bila daftar pustaka me¬muat lebih dari dua puluh sumber referensi. Daftar pustaka yang kurang dari dua puluh sumber referensi termasuk daftar pustaka yang pendek. Untuk daftar pustaka yang pendek penggolongan sumber referensi menu¬rut jenisnya tidak diperlukan,

3.2.3 Penyeleksian Sumber Referensi
Untuk mempersiapkan bahan dari satu topik tulisan ilmiah biasanya banyak sekali sumber bacaan yang kita baca, terutama yang berhubungan dengan masalah yang kita bahas. Dari semua buku yang kita baca tadi ti dak harus semuanya kita masukkan ke dalam daftar pustaka. Hal ini dise¬babkan karena: (1) Sumber-sumber bacaan ini belum tentu semuanya ter¬masuk sumber bacaan yang baik. Sumber bacaan yang kurang baik tidak akan membantu mutu tulisan ilmiah tadi. (2) Kadang-kadang sumber ba¬caan mengemukakan pendapat atau ide serta kesimpulan yang sama. Dari beberapa sumber bacaan yang sama ini dipilih salah satu saja sebagai sum¬ber referensi dalam daftar pustaka.
Yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar pustaka ialah bahwa semua referensi dari sumber bacaan yang telah dimuat ke dalam catatan kaki harus dimasukkan ke dalam daftar pustaka. Hal ini berarti bahwa da lam menyeleksi kutipan atau catatan kaki harusla.h yang betul-betul rele¬van dengan masala.h yang akan dibahas. Dengan demikian daftar pustaka yang disusun adala.h daftar pustaka pilihan karena kutipan atau catatan kakinya merupakan hasil pilihan juga.

3.2.4 Cara Menyusun Daftar Pustaka
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun pustaka:
a. Daftar pustaka tidak diberi nomor urut.
b. Nama penulis diurut menurut abjad.
c. Gelar penulis tidak dicantumkan walaupun dalam buku yang dikutip penulis mencantumkan gelar.
d. Daftar pustaka diletakkan pada bagian terakhir tulisan
e. Masing-masing sumber bacaan diketik dengan jarak baris satu spasi.
f. Jarak masing-masing sumber bacaan dua spasi.
g. Baris pertama diketik dari garis tepi (margin) tanpa indensi dan untuk baris-baris berikutnya digunakan indensi empat ketukan.
Di samping hal-hal tersebut perhatikan pula:
1) Nama Penulis
Untuk penulis-penulis asing nama keluarga diletakkan paling de-pan. Hal ini menentukan urutan huruf dalam daftar pustaka. Untuk penulis Indonesia yang menentukan urutan alfabetisnya ialah huruf pertama nama sendiri.
Jika penulis terdiri dari dua atau tiga orang, semua nama dican-tumkan. Jika penulis lebih dari tiga orang ditulis singkatan et. al. (dan kawan-kawan).
Jika dalam sumber bacaan terdapat beberapa tulisan yang ditulis oleh penulis yang sama maka sumber bacaan itu disusun berurutan. Nama penulis hanya ditulis pada karya urutan pertama. Karya urutan kedua dan seterusnya tidak dituliskan nama, tetapi diganti dengan garis sepanjang tujuh ketukan. Nama penulis maupun garis, diakhiri dengan titik.
Pada dasarnya cara menyingkat nama penulis pada daftar pustaka tidak berbeda dengan cara menyingkat pada catatan kaki. Akan tetapi bila penulisannya lebih dari satu orang, maka untuk penulis pertama cara menyingkatnya agak berbeda yaitu: nama keluarga ditulis terlebih dahulu dengan lengkap, diberi tanda koma, kemudian nama sendiri di¬singkat atau tidak disingkat dan akhirnya (jika ada) disingkat.

2) Judul Tulisan/Artikel
Cara menuliskan judul tulisan pada catatan kaki sama dengan cara menuliskan pada daftar pustaka. Judul tulisan ketik dengan huruf ka¬pital untuk setiap awal kata kecuali kata tugas. Judul tulisan diletakkan di antara tanda kutip dan diakhiri dengan tanda koma. Judul tulisan diketik dengan jarak dua ketukan dari tanda titik di belakang nama penulis.

3) Nama Buku/Majalah
Dalam daftar pustaka nama buku atau nama majalah diketik de¬ngan cara yang sama dengan judul tulisan yaitu dengan huruf kapital untuk setiap awal kata dan diberi garis bawah. Nama buku diakhiri dengan tanda titik, tetapi untuk nama majalah diakhiri dengan tanda koma.

4) Data Publikasi
Data publikasi dimulai dengan tempat penerbitan dan diakhiri de¬ngan titik dua, kemudian dengan jarak satu sela ketukan dilanjutkan dengan nama badan penerbit, ditutup dengan koma, sela satu ketukan kemudian diikuti tahun penerbitan yang ditulis dengan angka Arab dan diakhiri dengan titik. Jarak data publikasi dengan judul dua sela ketukan.
Agar lebih jelas marilah kita perhatikan penjelasan yang disertai contoh-contoh berikut ini.

  1. a) Buku
    (1) Contoh penulis buku 1 orang:
    Robins, Adriane. 1980. The Writer’s Practical Rhetoric. New York: John Wiley & Sons.

(2) Contoh penulisan buku lebih dari 1 orang.
Alexander, F., and RM. French. 1946. Psychoanalytic Therapy, New York: Ronald Press Co.

(3) Contoh penulisan buku terdiri dari 3 orang.
Charnes, A.W., W.W. Cooper, and A. Henderson. 1953. An Introduction to Linear Programming. New York: John Wiley & Sons, Inc.

(4) Contoh penulis buku lebih dari 3 orang.
Johnston, C.H., et al. 1914. The Modern High School. New York: Charles Scribner & Sons,

(5) Contoh dua buku yang ditulis oleh seorang penulis.
De Vito, A, Joseph, 1994. Human Communication, The Basic Course. New York: Harper Collin Cellege, Publisher, 1997. Komunikasi Antar Manusia, Kuliah Dasar, Edisi kelima, diterjemahkan oleh Maulana Agus. Jakarta: Profesional Book.

  1. b) Majalah, Buletin
    Untuk artikel yang dimuat dalam majalah atau pun buletin cara menyusun daftar pustakanya seperti berikut:
    Untuk artikel yang dimuat dalam majalah atau pun buletin cara menyusun daftar pustakanya
    (1} nama penulis/pengarang
    (2) judul artikel di antara tanda kutip (“…….. “) (3) nama majalah, digarisbawahi
    (4) nomor majalah jika ada
    (5) tanggal dan tahun penerbitan
    Contoh:
    Parera, J.D. “Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah Dilihat Dari Se¬gi Sosiopolitikolinguistik” Analisis Kebudayaan Depdikbud tahun IV-No. 3. 1983/1984.
  2. c) Surat Kabar
    Tulisan seperti editorial, pojok, dan berita, nomor halaman yang dicantumkan dalam catatan kaki tidak dicantumkan pada daftar pustaka.
    Contoh:

Komputek, edisi 187, Minggu ke-III Oktober 2000: 05). Tema: “Kunci sukses berjualan di internet”

  1. d) Karya yang Tidak Diterbitkan
    Unsur-unsur pokok dari karya yang tidak diterbitkan untuk daftar pustaka ialah:
    (1) nama penulis (2) judul tulisan (3) untuk apa tulisan itu ditujukan (4) lembaga yang menerima tulisan (5) tahun diajukannya karya.
    Antara unsur pertama dan kedua diberi sela dua ketukan. Antara unsur kedua dan ketiga juga diberi jarak dua ketukan. Te¬tapi antara unsur-unsur selanjutnya hanya diberi jarak satu ketuk¬kan sela.
    Contoh:
    Sabarti Akhadiah, 1983. “Pengaruh Materi Pengajaran Bahasa Indonesia, Lokasi Sekolah, dan Jenis Kelamin terhadap Kemampuan Pe¬nalaran Ilmiah Siswa SMP.” Disertasi, Fakultas Pasca Sarjana, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jakarta.
    Sakura Hatamarrasjid, 1967. “Perbandingan Fonologi Bahasa Bangka de¬ngan Bahasa Indonesia.” Tesis Sarjana, Fakultas Ilmu Pendi¬dikan, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bandung.

3.3 Format Penulisan
1) Kertas yang digunakan A4, berat 80 gram.
2) Ketikan
Menggunakan mesin ketik huruf Times New Roman dengan ketikan spasi (rangkap). Batas pengetikan 4 cm dari pinggir kiri, 3 cm dari pinggir kanan, dan 3 cm dari atas dan bawah kertas.
3) Paragraf
Paragraf dimulai pada ketukan kelima dari garis margin.
4) Karbon
Kertas karbon harus hitam.
5) Nomor halaman
Nomor halaman diletakkan di sebelah kanan atas, kecuali nomor ha¬laman bagi bab baru, yang ditempatkan di tengah bawah. Nomor halaman dengan angka Arab dimulai dengan tubuh utama penulisan (Bab 1) sedangkan bagi hal-hal yang bersifat mengantar dipergunakan angka latin dari alfabet dengan huruf kecil (seperti i, iv, v, dan x) yang diletakkan di te¬ngah bagian bawah.
6) Margin
Luas margin pada sebelah kiri dan atas 4 cm dan pada sebelah kanan dan bawah 2-3 cm. Margin sebelah kiri harus agak lebar karena karangan ilmiah ini harus dijilid.
7) Halaman Baru
Halaman baru dipergunakan untuk kata pengantar, daftar isi, daftar pustaka, dan lamp iran-lampiran. Kepala bagian-bagian yang disebutkan tadi diketik seluruhnya dengan huruf besar tanpa titik penutup.
8) Kutipan
Kutipan lebih dari empat baris diketik berspasi satu, letaknya empat ketukan dari garis margin. Tetapi pada umumnya baris pertama biasanya dimulai tujuh ketukan ketik atau lima ketukan ketik dari garis margin seperti memulai paragraf baru. Demikian juga dengan nomor catatan kaki di¬mulai pada jarak yang sama dari garis margin seperti memulai paragraf baru, yakni tujuh ketukan.
9) Catatan Kaki
Mengetik catatan kaki harus pada halaman yang sama dengan kutipan-nya. Pengetikan catatan kaki harus dipisahkan dari teks oleh garis sepan¬jang 14 ketukan dari garis margin, dan berjarak dua spasi dari teks dan dari catatan kaki sendiri.

 

 

Sumber: https://ryandaasyariabbas.wordpress.com/2012/08/10/teknik-penulisan-karya-ilmiah/

Robert Downey Jr.

Robert downey Jr Robert Downey Jr.

lahir di New York, 4 April 1965. Dia adalah anak kedua dari dua bersaudara. Robert memiliki kakak perempuan bernama Allyson. Semasa kecil, Robert dibesarkan dikalangan pembuat film. Ayahnya, Robert Downey, Sr., dikenal sebagai sineas yang kerap menyutradarai film independen. Sementara ibunya, Elsie Ford, adalah seorang aktris.

Dibesarkan di dunia film membuat Robert menjadi jatuh cinta. Dia kemudian memulai debutnya di dunia akting dalam film “Pound” (1970) yang disutradarai oleh ayahnya. Kala itu, Robert masih berusia lima tahun.

Beranjak remaja, Robert yang serius untuk meniti karir sebagai seorang aktor memilih untuk bersekolah di Stagedoor Manor Performing Arts Training Center di New York. Tak lama setelah perceraian orang tuanya di tahun 1978, Robert pindah ke California dan tinggal bersama ayahnya. Saat di California, Robert sempat menempuh pendidikan di Santa Monica High School tetapi kemudian keluar dan kembali ke New York untuk mengejar impiannya sebagai seorang aktor.

Masa-masa muda Robert merupakan masa yang penuh perjuangan. Saat berusia 20 tahun, Robert mendapat peran untuk bermain di acara televisi, “Saturday Night Live” (SNL). Namun, setahun setelah terpilih, Robert dipecat demi menyelamatkan acara yang waktu itu mendapat rating terendah versi Nielsen dan dikritik karena menampilkan karakter pemain yang biasa-biasa saja. Kegagalannya itu tidak mengurungkan niatnya untuk menjadi aktor. Dia pun mencoba peruntungannya di beberapa film, seperti “Tuff Turf” (1985), “Chances Are” (1989) dan film yang juga dibintangi sahabat karibnya, Mel Gibson, “Air America” (1990).

Tahun 1992, nama Robert semakin dikenal usai berperan sebagai Charlie Chaplin di film “Chaplin” (1992). Untuk perannya itu, Robert melakukan berbagai persiapan khusus seperti belajar bermain biola dan tenis. Dia bahkan memiliki pelatih pribadi yang membantunya membentuk postur tubuh sekaligus gaya mirip Charlie Chaplin.

Berkat kerja kerasnya di film “Chaplin”, dia berhasil meraih nominasi pertamanya lewat penghargaan Oscar untuk kategori Best Actor. Sayangnya Robert dikalahkan oleh aktor Al Pacino lewat perannya di film “Scent of a Woman” (1992). Sukses sebagai Charlie, Robert mulai mendapat banyak tawaran untuk bermain film Hollywood, seperti “Heart and Souls” (1993), “Only You”, “Natural Born Killers” dan “Richard III”.

Tentu saja ketenaran di masa muda tidak langsung membuat Robert menjadi sukses. Bahkan Robert justru terjerumus dan menjadi pecandu obat-obatan terlarang. Antara tahun 1996 hingga 2001, Robert berkali-kali ditangkap dan menjalani rehabilitasi. Tak lama setelah itu, Robert pun mengungkapkan sisi gelapnya bahwa dia telah menjadi pencandu sejak berusia delapan tahun. Robert menambahkan kalau ayahnyalah yang pertama kali memberikan obat-obatan tersebut karena ayahnya juga seorang pecandu.

Tak hanya ditangkap karena kepemilikan heroin dan kokain, dia juga ditangkap karena memiliki senjata ilegal. Robert bahkan berkali-kali keluar masuk penjara akibat ulahnya itu. Akibat dari perbuatannya, karir Robert sebagai aktor pun terancam. Meski demikian Robert masih menyempatkan diri untuk tampil di beberapa episode serial televisi “Ally McBeal” (2000-2002).

Tahun 2001, Robert yang mulai lelah menjalani hidupnya yang penuh masalah itu bertekad untuk berubah dan lebih serius menjalani rehabilitasi. Kembalinya Robert ke dunia hiburan ditandai dengan penampilannya di video musik single Elton John,”I Want Love”. Sutradara video musik tersebut, Sam Taylor-Wood, memuji penampilannya yang terlihat lebih santai dan segar. Namun, kembali bekerja tak semudah seperti membalikkan tangan. Beberapa studio besar enggan memberinya tawaran karena khawatir dengan kebiasaan buruk Robert.

Akhirnya, berkat bantuan sahabat karibnya Mel, Robert berhasil mendapatkan peran di mini seri TV “The Singing Detective” (2003). Bahkan Mel bersedia menjadi penjamin apabila Robert melanggar kontrak. Berkat penampilannya di film tersebut, para produser studio Hollywood mulai percaya bahwa dia telah berubah dan memberinya tawaran untuk bermain di film-film besar, seperti “Gothika”, “Kiss Kiss Bang Bang” dan “Iron Man”.

Usai keberhasilannya memerankan karakter Tony Stark/Iron Man di “Iron Man”, nama Robert sebagai aktor semakin melambung dan membuatnya berhasil mendapatkan peran utama di beberapa film box office, yakni “The Soloist”, “Sherlock Holmes” dan “Iron Man 2“. Kepiawaiannya berakting dapat kembali disaksikan di film yang akan dirilis tahun ini “Due Date” dan film yang akan dirilis 2012 mendatang, “The Avengers“.

 

Sumber: http://www.wowkeren.com/seleb/robert_downey_jr_/bio.html